Jangan melihat pada tubuhnya yg tambun, karena sahabat2 semua akan terkejut begitu mengetahui ternyata kesabaran dan ketabahannya pun ju...
Jangan melihat pada tubuhnya yg tambun, karena
sahabat2 semua akan terkejut begitu mengetahui ternyata kesabaran dan
ketabahannya pun juga sebesar tubuhnya; bahkan mungkin lebih besar lagi.
Ya, tak perlu diragukan lagi, beliau adalah sosok yang paling berbesar hati dan paling berlapang dada dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan ujian selama perjuangan merintis lembaga ini (semoga Allah SWT senantiasa mengkaruniakan Iman dan kesabaran yang lebih luas dan langgeng dalam hatinya, aamiin).
Ustadzah Ina, begitu beliau akrab disapa merupakan salah satu pengajar di MI Uyun al-Hikam, sekaligus istri dari Ustadz Bahrudin Munawiri; pendiri sekaligus kepala dan pengasuh Lembaga Pendidikan Islam Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Yatim Piatu & Dhuafa Uyun al-Hikam Ponorogo.
Dalam keseharian, ibu dua anak ini sosok yang sederhana dalam bersikap dan bertindak. Saat menjalani aktifitas yang bisa dikatakan merupakan kewajibannya, beliau seakan dikaruniai energi lebih, sehingga hampir tidak pernah merasakan lelah yang menderanya.
Aktifitas paginya dimulai sejak sebelum adzan subuh berkumandang, menyiapkan sarapan bagi sekitar 15 santri/santriwati yang bermukim di pondok. Meski hakekatnya beliau adalah "Ibu Nyai", bukan berarti menjadi sebuah alasan bagi beliau untuk duduk berpangku tangan, perintah sana perintah sini. "Tidak ada metode pembelajaran yang lebih baik selain keteladanan", ujar beliau. Sebuah prinsip yang selalu beliau pegang dengan teguh.
Bukan sekedar jargon, karena hal tersebut menjadi praktek keseharian alumni PGMI Insuri Ponorogo ini. Begitu sabar dan telatennya; sampai semua santri dan santriwati menganggap beliau sudah seperti ibu kandung mereka sendiri.
Selain memiliki bakat ketelatenan dalam "ngopeni" santri, ibu dua anak ini juga memiliki keahlian sekaligus hoby dalam bidang kuliner. Bukan sekedar main-main, karena beliau juga sempat mengikuti kursus masak-memasak yang di selenggarakan oleh BLK Kabupaten Ponorogo.
Berawal dari hoby ini juga yang kemudian menelurkan gagasan untuk mencoba merintis usaha catering dan produksi makanan ringan dengan merk "ulhika". Sempat berproduksi beberapa lama, sebelum akhirnya berhenti berproduksi karena tenaga dan waktunya lebih banyak tersita untuk mengurusi para pekerja proyek pembangunan gedung MI dan Asrama santri, yang alhamdulillah sudah 80 % rampung.
Meski demikian, tidak berarti rintisan kewirausahaan ini beliau tinggalkan begitu saja. Sesekali juga masih berproduksi bila ada pesanan. Tentu saja proses produksi dan pemasaran produk dibantu oleh para santri.
Memang kewirausahaan atau life skill menjadi salah satu kurikulum wajib di asrama, sebagai persiapan dan bekal para santri untuk mengarungi kehidupan di masa mendatang. Bahkan sebagai bagian dari cita-cita lembaga adalah; lembaga memiliki suatu usaha yang bisa dijadikan sumber penghidupan secara mandiri bagi lembaga ini nantinya, aamiin (semoga Allah SWT meridhloi). Jadi, di akhir kata tetap semangat ustadzah Ina! Perjuangan menegakan Agama Allah adalah bagian dari jihad fii sabilillah yang di janjikan surga bagi setiap pelakunya.
Ya, tak perlu diragukan lagi, beliau adalah sosok yang paling berbesar hati dan paling berlapang dada dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan ujian selama perjuangan merintis lembaga ini (semoga Allah SWT senantiasa mengkaruniakan Iman dan kesabaran yang lebih luas dan langgeng dalam hatinya, aamiin).
Ustadzah Ina, begitu beliau akrab disapa merupakan salah satu pengajar di MI Uyun al-Hikam, sekaligus istri dari Ustadz Bahrudin Munawiri; pendiri sekaligus kepala dan pengasuh Lembaga Pendidikan Islam Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Yatim Piatu & Dhuafa Uyun al-Hikam Ponorogo.
Dalam keseharian, ibu dua anak ini sosok yang sederhana dalam bersikap dan bertindak. Saat menjalani aktifitas yang bisa dikatakan merupakan kewajibannya, beliau seakan dikaruniai energi lebih, sehingga hampir tidak pernah merasakan lelah yang menderanya.
Aktifitas paginya dimulai sejak sebelum adzan subuh berkumandang, menyiapkan sarapan bagi sekitar 15 santri/santriwati yang bermukim di pondok. Meski hakekatnya beliau adalah "Ibu Nyai", bukan berarti menjadi sebuah alasan bagi beliau untuk duduk berpangku tangan, perintah sana perintah sini. "Tidak ada metode pembelajaran yang lebih baik selain keteladanan", ujar beliau. Sebuah prinsip yang selalu beliau pegang dengan teguh.
Bukan sekedar jargon, karena hal tersebut menjadi praktek keseharian alumni PGMI Insuri Ponorogo ini. Begitu sabar dan telatennya; sampai semua santri dan santriwati menganggap beliau sudah seperti ibu kandung mereka sendiri.
Selain memiliki bakat ketelatenan dalam "ngopeni" santri, ibu dua anak ini juga memiliki keahlian sekaligus hoby dalam bidang kuliner. Bukan sekedar main-main, karena beliau juga sempat mengikuti kursus masak-memasak yang di selenggarakan oleh BLK Kabupaten Ponorogo.
Berawal dari hoby ini juga yang kemudian menelurkan gagasan untuk mencoba merintis usaha catering dan produksi makanan ringan dengan merk "ulhika". Sempat berproduksi beberapa lama, sebelum akhirnya berhenti berproduksi karena tenaga dan waktunya lebih banyak tersita untuk mengurusi para pekerja proyek pembangunan gedung MI dan Asrama santri, yang alhamdulillah sudah 80 % rampung.
Meski demikian, tidak berarti rintisan kewirausahaan ini beliau tinggalkan begitu saja. Sesekali juga masih berproduksi bila ada pesanan. Tentu saja proses produksi dan pemasaran produk dibantu oleh para santri.
Memang kewirausahaan atau life skill menjadi salah satu kurikulum wajib di asrama, sebagai persiapan dan bekal para santri untuk mengarungi kehidupan di masa mendatang. Bahkan sebagai bagian dari cita-cita lembaga adalah; lembaga memiliki suatu usaha yang bisa dijadikan sumber penghidupan secara mandiri bagi lembaga ini nantinya, aamiin (semoga Allah SWT meridhloi). Jadi, di akhir kata tetap semangat ustadzah Ina! Perjuangan menegakan Agama Allah adalah bagian dari jihad fii sabilillah yang di janjikan surga bagi setiap pelakunya.


COMMENTS