Diriwayatkan oleh ibnu syaibah dengan sanad shahih dari riwayat Abu salih as saman dari Malik ad dar seorang bendahara Umar yg berkata, ...
Diriwayatkan oleh ibnu syaibah dengan sanad shahih dari riwayat Abu
salih as saman dari Malik ad dar seorang bendahara Umar yg berkata,
"Masyarakat mengalami paceklik pada zaman(kekhalifahan) Umar. Lantas,
seseorang datang ke maqam Nabi SAW. Seraya berkata, "Ya Rasulullah
mohonkanlah(kepada Allah SWT) hujan utk umatmu, karena mereka hendak
binasa.'' kemudian lelaki itu bermimpi(bertemu Nabi SAW)dalam tidurnya
lalu beliau bersabda,'temuilah Umar!'..."Saif juga meriwayatkan hadits
tersebut dalam kitab al futuh:sesungguhnya lelaki yang bermimpi tadi
adalah Bilal ibnu al harits almuzanni, salah seorang sahabat."
(HR Bukhari)
Pada hadits lain
Dari Daud bin abu shalih berkata,"suatu hari Marwan melihat seseorang
menghempaskan wajahnya di atas kuburan Nabi SAW.'hai sadarkah apa yg
kamu perbuat? seru marwan sambil menghampirinya. Ternyata orang yg dia
ajak bicara adalah Abu Ayyub.
'tentu' jawab dia. 'yang aku datangi
adalah Rasulullah SAW bukan batu! Aku mendengar Rasulullah saw
bersabda,'janganlah kalian bersedih jika agama di urus oleh ahlinya,
tapi bersedihlah jika agma ditangani oleh bukan ahlinya."
(HR Ahmad,Hakim, Thabrani dll)
Hadits ini menandakan kebiasaan para sahabat yg senang mengadukan
masalahnya kepada Rasulullah dikuburnya. Ini adalah hal yg dibolehkan.
Inilah akhlaq salaf, bahwa mendatangi kuburan utk mengeluh kepada orang
yg dicintai(dan kita pun mengetahui org itu dicintai Allah semasa
hidupnya, dengan kita melihat akhlaq maupun ibadahnya) adalah boleh,
meskipun telah wafat. Hal yang seperti ini bukanlah meminta kepada
kuburan.
Sering kita ditanya, kenapa tidak meminta langsung kpda Allah?
Sebagai jawban lihat apa yg dilakukan oleh sayyidina Abu Ayyub, kenapa
beliau tdk langsung kpda Allah ? ini menandakan kebolehan hal itu,karena
urusan mengeluhkan masalah kepada selain Allah adalah boleh, seperti
halnya kita mengeluh kepada orang tua ataupun sahabat kita.
Pada kitab ar-raudh al fiqh, al-qatstalani , kan zul ummah hadits no 10442 dan pada kitab lainnya menyebutkan:
sayyidina Ali bin abi Thalib mengatakan,'3 hari setelah aku menguburkan
Rasulullah saw,seorang badui menemui kami, kemudian dia menghempaskan
dirinya di atas makam Rasulullah Saw. Dan menaburkan tanahnya di atas
kepalanya. Lalu badui itu berkata:wahai Rasulullah, tuan bersabda, aku
dengar. Tuan mengingatkanku tentang Allah, aku mengingatNya. Di antara
wahyu yg diturunkan kepada tuan adalah: sesungguhnya jikalau ketika
mereka menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada
Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun utk mereka, tentulah mereka
mendpati Allah Maha penerima taubat lagi Maha penyayang.'aku telah
menganiaya diriku. Untuk itu, aku menghadap kepada tuan agar memohonkan
ampun(kepada Allah) untukku.'tiba-tiba ,seakan-akan terdengar sebuah
seruan dari dalam kubur,'Allah telah mengampuni dosamu!'
Alhafizh ibnu asakir dalam kitab tuhfah meriwayatkan dari thahir bin
yahya al-husaini, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ja'far ibnu Muhammad
dari ayahnya dari sayyidina Ali k.w. Berkata," setelah Rasulullah saw
dikebumikan, sayyidah Fatimah berdiri didekat makamnya. Dia mengambil
segenggam tanah, lalu meletakkannya di atas pelupuk matanya. Dia
meluapkan kesedihannya dengan sebuah syair:
"apa salahnya orang yg mencium tanah pusara Ahmad(Rasulullah Saw).
Orang yg berhati kelam takkan menciumnya ,sampai kapanpun.
Musibah demi musibah terus menimpaku.
Andai saja musibah itu hanya di siang hari,
Niscaya indahnya malam akan kembali"
Sementara itu, Al-khatib bin jamaah mengatakan bahwa sayyidina Abdullah
bin Umar ra menempelkan tangan kanannya di atas pusara Rasulullah.
Bahkan, sayyidina Bilal ra malah menempelkan pipinya.
(kitab wafa al wafa).
Adakah pengingkaran para sahabat ketika melihat sahabat lain melakukan hal ini?
Baca,
Fahami
Dan renungkan..
Semoga bermanfaat..
Wallahu a'lam..
Disarikan dari fp Pendidikan Agama Islam
COMMENTS