cerpen : KH. A. Mustofa Bisri Berikut ini akan kami sajikan sebuah cerpen karya kyai dan sastrawan kondang KH. A. Mustofa Bisri, atau y...
cerpen : KH. A. Mustofa Bisri
Berikut ini akan kami sajikan sebuah cerpen karya kyai dan sastrawan kondang KH. A. Mustofa Bisri, atau yang akarb disapa Gus Mus. Muatan laku ajaran dalam cerpen ini sangat menarik untuk disimak. Sehingga pada akhirnya kita akan menyadari bahwa mendidik anak itu bukanlah semata-mata urusan akademis, juga bukan semata-mata urusan mentransfer pengetahuan melalui metode-metode ilmiah; akan tetapi sebuah bentuk pendidikan ala sastra juga penting disampaikan sebagai bahan pembentuk karakter dan akhlak anak. - -
Anak-anak kecil sangat takut dengan lelaki itu. Bukan saja karena
tubuhnya yang tinggi besar; mukanya yang tak pernah tersenyum, dan
bibirnya yang dower, tapi terutama karena kebiasaannya yang aneh. Suka
mencaci dengan berteriak kepada siapa saja yang dijumpainya. tak peduli
terhadap siapa saja --orang tua, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang
biasa, tokoh masyarakat-- lelaki yang di kampung kami dipanggil Ndara
Mat Amit itu selalu bersikap kasar.
Caci maki baginya seperti
salam saja. Setiap ketemu orang, kata-kata pertama yang keluar dari
mulutnya adalah caci-maki atau kata-kata tidak jelas maknanya yang
rupanya dia maksudkan juga sebagai cacian. Mungkin karena itu, atau
mungkin juga karena tak tahu arti ndara, anak-anak tidak ada yang
memanggilnya Ndara, hanya Mat Amit saja.
Semula aku sendiri
juga hanya memanggilnya Mat Amit, tapi setelah dimarahi ibuku, aku
ikut-ikut orang tua memanggilnya Ndara. Tak ada seorang pun yang tahu
persis di mana Ndara Mat Amit tinggal. Orang-orang hanya tahu dia itu
bukan penduduk asli, orang dari luar kota, tapi punya banyak kenalan di
kota kami. Ada yang bilang dia dipanggil Ndara karena masih keturunan
Nabi. Hanya karena ia sering datang -- hampir sebulan sekali, paling
lama tiga bulan sekali-- banyak orang yang kemudian mengenalnya.
"Mat Amit! Mat Amit!" begitu teriak anak-anak bila melihat sosok raksasa
itu datang. Dan anak-anak yang sedang asyik bermain itu pun buyar;
berlarian ke sana kemari seperti gerombolan anak kijang melihat harimau.
Di antara yang sering dikunjungi Ndara Mat Amit adalah rumah kami.
Kalau datang, ia tidak pernah lupa mampir ke rumah. Entah mengapa.
Mungkin dia menyukai ayahku yang memang ramah terhadap setiap tamu. Ayah
pernah menasihatiku: menghormati tamu itu merupakan anjuran Rasulullah;
jadi siapa pun tamu kita, mesti kita hormati. Muslim yang baik ialah
yang dapat menundukkan rasa suka dan tidak sukanya demi melaksanakan
ajaran Rasulnya.
"Tapi Ndara Mat Amit sendiri tidak ramah, Yah," selaku, "bahkan menakutkan!"
"Apa yang kau takuti? Dia itu manusia biasa juga seperti kita," kata Ayah menjelaskan.
"Dia kan tidak pernah mengigit orang. Orang itu kan macam-macam
tabiatnya. Ada yang kasar, ada yang lembut. Ada yang sopan, ada yang
tidak. Kita sendiri memang harus berusaha menjadi orang yang lembut dan
sopan, tapi kan tidak harus membenci mereka yang belum bisa bersikap
begitu. Dan ingat, cung (cung, dari kacung = panggilan untuk anak
kecil); penampilan luar orang belum tentu menggambarkan pribadinya,
bahkan seringkali kita terkecoh kalau hanya melihat penampilan
seseorang. Bukankah sering kita melihat orang yang tampaknya sopan dan
halus, ternyata tabiatnya suka menghasut."
Entah karena nasihat
Ayah atau mungkin karena sudah terbiasa, akhirnya aku sendiri --tidak
seperti banyak kawanku-- tidak begitu takut lagi dengan Ndara Mat Amit.
Memang dulu --dalam kesempatan berkunjung ke rumah-- pernah aku
dipanggil Ndara Mat Amit, tepatnya dibentak, hingga gemetaran.
"Hei, kamu, bajingan, kemari!"
Aku terpaku ketakutan.
"Setan kecil! Punya telinga, tidak?" teriaknya lagi. "Aku memanggilmu, Bahlul!"
Aku pun ragu-ragu mendekat dengan kewaspadaan penuh. Pikirku, kalau dia
macam- macam, mau mengampar misalnya, aku sudah siap melarikan diri.
Ternyata dia merogoh saku jasnya yang kumal, mengeluarkan beberapa uang
receh, dan memberikannya kepadaku.
"Ini, buat jajan kamu dan kawan-kawanmu!" katanya kasar. "Goblok! Terima!"
Ragu-ragu aku menerima pemberiannya.
"Lho, apalagi? kurang?" Dia merogoh lagi sakunya dan memberikan lagi uang receh kepadaku.
"Sekarang minggat!" teriaknya kemudian mengejutkanku.
"Cepat minggat! Monyet kecil!!!"
Aku pun berlari meninggalkannya.
Ngeri, tapi senang juga mendapat uang jajan yang cukup untuk menraktir
kawan-kawan ke warung pecel De Karmonah. Ada baiknya juga orang sangar
ini.
***
Sudah menjadi kebiasaan, pada bulan Maulud
(Rabi'ul Awwal) Ayah mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di
aula pesantrennya. Dulu acaranya sederhana saja. Tidak ada
ceramah-ceramah seperti sekarang. Hanya berzanjenan, membaca syair-syair
madah Al-Banzanji-nya Syeikh Jakfar Al-Barzanji, untuk mengenang dan
memuji Rasulullah SAW. Orang-orang bergiliran membaca dengan lagu yang
berbeda-beda. Ada yang irama dan nadanya seperti lagu India, ada yang
seperti lagu Melayu, ada lagu padang pasir, dsb. Bahkan ada yang
menembak irama lagu Pengantin Baru. Kalau lagunya agak sulit,
orang-orang yang "koor" mengikutinya agak kerepotan juga. Biasanya ada
grup rebana yang mengiringi.
Dalam acara semacam ini Ndara Mat
Amit tidak pernah absen hadir dengan pakaian kebesarannya yang
khas:sarung plekat, jas yang berkantong besar; peci torbus merah, dan
sepatu dengan kaos kaki tebal. Dia kelihatan paling bersemangat
menyahuti syair-syair yang dilagukan.Seperti sosoknya, suaranya juga
paling menonjol. Keras, sember; dan sumbang; membuat anak-anak muda
menahan senyum dan anak-anak kecil cekikikan campur takut.
Tidak seperti biasanya, dalam acara seperti itu, Ndara Mat Amit tidak
peduli; dia tetap asyik menyahuti shalawat Nabi dengan serius dan
sepenuh hati. Sampai suatu ketika, pada acara Mauludan seperti itu
terjadi peristiwa yang menarik. Pada saat asyraqalan, di mana semua yang
hadir berdiri sambil melantunkan shalawat mulai dari Thala'al Badru
'alainaa ... Ndara Mat Amit tampak menunduk-menunduk sambil menangis
meraung-raung. Sementara di bagian lain terlihat pemandangan yang
serupa: Pak Min, kusir dokar yang biasa mengantar Ayah bila bepergian
agak jauh, juga menunduk-menunduk sambil menangis, meski tidak sekeras
Ndara Mat Amit. Tentu saja sikap kedua orang itu menarik perhatian
sekalian yang hadir. bahkan setelah selesai acara berzanjenan, pada
waktu acara makan bersama, kulihat Ayah mendekati Pak Min dan
menanyainya, "Kang Min, tadi waktu asyraqalan aku lihat kamu kok
menunduk-nunduk sambil menangis. Mengapa?"
"Lho, apa Kiai nggak pirso tadi itu Kanjeng Nabi rawuh?" Kang Min balas bertanya sambil berbisik.
"Lho, masak iya, Kang Min?" ayah seperti kaget.
"Aku kok nggak melihat."
"Kusir samber gelap!" tiba-tiba suara geledek Ndara Mat Amit menyambar.
"Begitu saja ente pamer-pamerkan, Min, Min! Dasar kusir kucing kurap!"
"Siapa yang pamer, Yik (Yik berasal dari Sayyid = panggilan untuk orang
Arab di Jawa)?" sahut Pak Min. "Aku kan ditanya Kiai. Memangnya aku
mesti diam saja ditanya Kiai?"
"Kusir tengik, tak tahu malu!"
"Kau ini, Yik, yang tak tahu malu!" sergah Pak Min dengan berani, membuat orang-orang tercengang.
"Dari dulu nggak capek-capeknya pakai topeng monyet. Sudahlah, Yik,
yang wajar-wajar saja! Untuk apa pakai topeng segala! Ente pikir, dengan
pakai topeng monyet begitu ente bisa menyembunyikan diri ente? kusir
dokar saja tahu siapa ente sebenarnya."
Orang-orang mengira
Ndara Mat Amit akan meradang dan menerkam atau setidaknya menyumpahi
Kang Min habis-habisan. Ternyata tidak. Ndara kita ini malah menunduk
dan tak lama kemudian, "Assalamu'alaikum!" katanya memberi salam kepada
semua, dan --lho!-- ditinggalkannya majlis begitu saja.
Dari
kejauhan masih terdengar lamat-lamat umpatannya, "Kusir edan!" Sejak
itu, Ndara Mat Amit menghilang. Tak pernah lagi datang ke kota kami.
Demikian pula Pak Min. tak lama setelah kepergian Ndara Mat Amit, Pak
Min pamit kepada Ayah dan menyerahkan dokar dan kudanya. Katanya mau
pulang ke desanya, tapi setelah itu tak pernah kembali.
"Dua
orang itu," kata Ayah saat aku mintai penjelasan, "Sayyid Muhammad Hamid
--yang dikenal sebagai Ndara Mat Amit-- dan Kiai Mukmin --yang biasa
dipanggil Pak Min atau Kang Min-- sebenarnya sama-sama memakai topeng.
Artinya keduanya ingin menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya agar
tidak dikenali orang. Keduanya ingin tampak awam, bahkan hina, di depan
umum. Yang satu dengan berlagak kasar tak tahu sopan; yang satunya lagi
bersembunyi dalam pekerjaannya sebagai kusir. Dulu banyak orang saleh
yang menyembunyikan diri seperti itu, bahkan ada yang berpura-pura gila.
Ada yang melakukan hal itu karena khawatir didekati penguasa; ada yang
tak mau kehilangan kenikmatan sebagai hamba yang papa di hadapan Allah,
ada juga yang semata-mata karena takut hatinya terserang ujub."
"Tapi, seperti kau ketahui, takdir mempertemukan kedua tokoh bertopeng
itu dan tanpa sadar topeng-topeng mereka terlepas. Keistimewaan mereka
pun terlihat oleh kita. Kamu lihat waktu berzanjenan itu: dari sekian
banyak kiai, tak ada seorang pun yang melihat kehadiran Rasulullah, juga
Ayah. Hanya mereka berdua. Itu waAllahu a'lam, merupakan tanda bahwa
hati mereka memang bersih. Hanya mereka yang mempunyai hati bersih, yang
dapat melihat alam malakut dan roh suci nabi. Ayah yakin mereka berdua
tak akan pernah kembali kemari, selamanya. Wali mastur, yang
menyembunyikan kesalehannya, selalu menghilang bila ketahuan umum."
Rembang, 3 Ramadan 1423
COMMENTS