Artikel ini kami ambil dari sebuah FP yg mengulas tentang pendidikan karakter pada anak. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi seo...
Artikel ini kami ambil dari sebuah FP yg mengulas tentang pendidikan karakter pada anak. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi seorang profesor, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia. Sengaja kami sajikan, semoga bermanfaat bagi pembaca semuanya.
Gerai
itu ditunggui oleh seorang ibu yang (saya duga) pemiliknya sendiri, seorang
pegawai wanita, dan seorang anak laki-laki berumur 5 tahunan, yang sedang duduk
di meja kasir sambil makan nasi dengan santainya. Tampaknya (saya duga juga)
anak itu, sebut saja namanya Minggus (karena kebetulan saat itu hari Minggu)
adalah anak pemilik gerai yang saya sebut saja namanya Manggus (mamanya
Minggus).
Adapun
sang pegawai saya panggil mbak (saya memangmemanggilnya “mbak”, seperti
lazimnya orang memanggil setiap wanita muda yang tidak dikenal). Saya dilayani
dengan baik oleh si mbak. Dia mengambilkan tinta printer yang saya maksud dan
mempersilakan saya menuju meja kasir, yang sedang diduduki oleh Minggus. Eeeeh,
melihat saya berdiri di depannya, Minggus ini melotot ke saya, dia tidak senang
melihat saya di situ. Siapa ini kakekkakek berwajah Dude Herlino
berani-beraninya berdiri di depanku? Begitulah mungkin yang ada di benaknya
(saya duga juga).
Karena
saya pada dasarnya senang pada anak kecil, maka saya tersenyum, sambil bertanya
basa-basi, “Kelas berapa, Dik?” Eeeh, dia tambah melotot sambil memanyunkan
bibirnya. Terus dia beranjak mau mengambil minuman kemasan dari meja yang lain.
Karena meja itu terlalu tinggi buat dia, sementara si mbak sedang sibuk
membuatkan bon buat saya, dan Bu Manggus juga sedang sibuk
menulisnulisentahapa, saya bantuMinggus mengambilkan satu gelas kemasan air
mineral dan sedotannya.
Yang
membuat saya terkejut (tetapi tetap tersenyum, namanya juga psikolog), Minggus
merebut air itu dari tangan saya sambil terus melotot. Sementara itu, Bunda
Manggus tidak memperhatikan dan terus saja menulis. Sesudah merebut air Minggus
mengambil piring nasinya (karena meja kasir ditempati bundanya untuk melayani
saya membayar belanjaan) dan meletakkannya di lantai dan mulai meneruskan makan
dengan santai, sambil salah satu kakinya naikkeatas. Nah, disinilahterjadi
klimaks dari drama kecil kehidupan itu. Si bunda Manggus, tiba-tiba murka
besar.
“Hai!
Kenapa kamu duduk di bawah. Kaya anak pemulung saja. Sudah enak-enak jadi anak
yang bisa makan di kursi, ini malah ingin jadi anakpemulung! Sanamasuk!” Si ibu
menghardik dengan wajah keras sambil menunjuk ke pintu gudang di belakang toko
(nampaknya ibuitulupabahwabanyak pemulung yang penghasilannya lebih besar
daripada PNS bergelar S-1). Minggus bergeming, dia diam saja di tempat. Dia
pikir mamanya tidak serius. Tetapi mamanya serius.
Tambah
murka dia, “Ayo, masuk! Kalauenggak, mama tampar kamu!” Gesturnya benarbenar
mau menampar. Maka Minggus cepat-cepat, dengan tubuh merunduk-runduk (seperti
anjing kampung yang mau digebuk tuannya), masuk ke gudang. Setelah situasi
kembali aman dan terkendali, barulah ibunda Manggus melayani saya dengan
ramah-tamah, menerima pembayaran saya dengan senyum seolah-olah tidak terjadi
apa-apa. Si mbak menyerahkan tinta printer yang sudah dibungkus plastik kresek
dan saya pun balik kanan jalan, kembali ke dunia saya sendiri yang saya rasa lebih
aman dan damai daripada dunia Minggus.
***
Kak Seto pernah mengobrol dengan saya tentangKDRT. Dia bilang, korban KDRT
terbanyak itu anak-anak, bukan wanita, dan pelakunya adalah ibu kandung
sendiri, bukan orang lain, termasuk bukan juga ibu tiri. Ibu tiri jaman
sekarang umumnya baik hati, seperti Ashanty Anang (penggemar infotainment tentu
kenal Ashanty). Saya sependapat dengan Kak Seto, karena saya banyak mendapat
klien orang tua yang bermasalah dengan anaknya, atau anak yang bermasalah
dengan orangtuanya. Ternyatabuat para orang tua, mendisiplinkan anak identik
dengan kekerasan.
Anak
SD kelas 1 atau kelas 2, yang masih getol-getolnya bermain, dihardik-hardik
untuk belajar. Kalau sudah belajar beberapa saat, mamanya (mama kandung, bukan
tiri) bertanya terus pelajaran untuk mengecek apakah sudah hafal atau belum.
Kalau belum hafal, mama marah banget. Bukan hanya dihardik, tetapijugadicubit,
makintidakbisa, makin dicubit, anak menangis (wajarlah menangis, kan sakit
dicubit), wahmalah makin menjadi- jadi dicubitnya, sampai paha anak
merah-merah.
Bagaimana
anak mau belajar dan berpikir, kalau dicubiti terus seperti itu, padahal kan
mama maunya anak itu pintar, berarti belajar, berarti berpikir, berarti tidak
boleh kesakitan karena pahanya dicubiti. Itulah yang namanya reaction formation
dalam psikologi. Ibu cinta pada anaknya, sayang pada anak dan ingin anak jadi
pintar, jadi dokter, atau minimal jadi artis, bukannya jadi pemulung. Dampaknya
pada anak malah sebaliknya. Makanya ketika saya tahu bagaimana Manggus
memperlakukan Minggus, saya tidak heran ketika Minggus galak kepada saya.
Dalam
bahasa psikologi itu namanya displacement, yaitu pengalihan sasaran kemarahan
dari ibu (yang tidak dibenarkan oleh norma sosial) kepada pihak lain yang
dianggap lebih bisa dijadikan sasaran. Tetapi saya ngeri juga ketika memikirkan
betapa banyaknya ibu yang memperlakukan anaknya dengan kejam. Hampir bisa
dipastikan anak-anak mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang juga kejam
tanpa empati. Pada saatnya akan terjadi generasi bangsa Indonesia yang agresif,
pemarah, dan tidak berempati. Dan generasi itu sudah mulai terlihat sekarang.
Mudah-mudahan para ibu se-Indonesia menyadari betapa besarnya peran mereka
dalam membentuk watak generasi bangsa. Selamat Hari Ibu. ●
SARLITO WIRAWAN SARWONO
Guru
Besar Fakultas Psikologi Universitas IndonesiaSARLITO WIRAWAN SARWONO

COMMENTS