MERABA FILSAFAT INDONESIA

Ada berbagai tipikal unik yang dimilki oleh sebagian besar orang Indonesia. Selain piawai dalam menciptakan dan mengaitkan sesuatu dengan ...

Ada berbagai tipikal unik yang dimilki oleh sebagian besar orang Indonesia. Selain piawai dalam menciptakan dan mengaitkan sesuatu dengan hal baru, di lain pihak ternyata orang Indonesia juga lebih sering malu mengakui kemampuan bangsanya sendiri. Malu yang saya maksud bisa berarti gengsi atau memang benar-benar tak mau mengakui. Hal ini disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah ketidaktahuan atas jati diri bangsanya. Padahal, jati diri merupakan sesuatu yang urgen, sebab tanpa adanya itu─kata Sartre─seseorang tak akan tak mungkin mempertanyakan ke-akuannya.

Maka jangan heran jika orang Indonesia lebih suka barang-barang made in luar negeri daripada hasil produksi bangsanya sendiri. Belum lagi masalah ideologi, pendidikan dan sampai ihwal klenik semacam santet pun juga mengiblat ke luar negeri. Aneh bukan. Padahal jika menyangkut pendidikan misalnya, bahwa budaya pendidikan di negara-negara maju sejatinya bertolak dari kebudayaan mereka sendiri. Apa yang mereka ajarkan adalah hasil dari pencapaian budaya nenek moyang mereka. Pendidikan di negara-negara maju, dilihat melalui konteks budaya, merupakan garis lurus perjalanan cara berpikir, cara berbuat dan semua produk kegiatan semacam itu. Sementara kita mempunyai garis sejarah budaya yang berbeda, cara berpikir, tata nilai dan lain sebagainya. Dari sedikit gambaran tadi, saya akhirnya sependapat bahwa bangsa kita saat ini telah mengalami apa yang sering disebut dengan krisis identitas. Dengan kata lain, identitas (sampai menyangkut sesuatu paling hakiki) yang menjadi pembeda dengan bangsa lain jadi tak jelas gambarannya. Padahal setiap bangsa memiliki falsafah masing-masing. Setiap bangsa tercipta dari tempaan budaya dan keadaan sosial yang tak sama.

Lalu seperti apakah filsafat bangsa kita? Sedangkan kita lebih mengenal pikiran-pikiran Gramsci daripada Tan Malaka, pemikiran Fromm daripada Ki Hadjar Dewantara dan lebih suka mengenal Genghis Khan ketimbang Gajah Mada. Dan yang sampai detik ini menjadi pertanyaan di benak saya, apakah pemikiran para tokoh besar seperti Tan Malaka dan Ki Hajar Dewantara misalnya, nyaris sepenuhnya dipengaruhi oleh gaya pemikiran tokoh Barat? Bukankah setiap tokoh mempunyai epistema pemikiran masing-masing? Maksud saya, tidakkah mereka berangkat dari pijakan Filsafat Indonesia sendiri? Pun tak dipungkiri, bahwa gaya pemikiran yang tertuang dalam karya besar mereka sedikit banyak juga terpengaruh para tokoh besar dunia. Baiklah, untuk menjawab pertanyaan itu izinkan saya untuk coba meraba, tapi sebatas “kulit luarnya” saja. Karena apa yang saya tahu tak lebih dari itu. Ditambah lagi, untuk sampai pada bagian yang paling pokok sudah pasti dibutuhkan berbagai pendekatan tidak hanya historis melainkan juga sosiologis, antropologis dan lain sebagainya yang panjang dan tak mudah. Maka, sekali lagi ingat, hanya kulit luarnya saja. Tidak lebih.

Sebelum mulai meraba, saya ingin mengatakan pada Anda bahwa pada mulanya saya sama sekali tak tertarik untuk menulis catatan ini. Namun sekonyong-konyong saya teringat ketika beberapa bulan yang lalu ada seorang sahabat menandai sebuah catatan di Facebook yang berjudul Pulang Pada Identitas. Saat itulah hasrat saya untuk menulis kembali menggebu. Meskipun inti dari catatan itu mencari titik temu antara Islam dan Jawa melalui pendekatan historis, tradisi, simbol-simbol kebudayaan serta mutiara kata kearifannya. Namun saya tetap berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang terkandung dalam catatan itu sama sekali tidak bermaksud primordialis, ataupun rasis.

Sebab pada dasarnya, spirit yang diusung oleh penulis tidak lain adalah untuk mengajak kembali pada identitas kita, bangsa Indonesia. Dus bagi saya, melacak identitas dalam konteks kebangsaan─khususnya Indonesia─haruslah melibatkan semua aspek sosio-kultur yang ada. Boleh jadi taruhlah peradaban Jawa sebagai peradaban tertua namun bukan berarti bahwa keberadaan etnik lain seperti yang ada di Papua, Sumatera, Kalimantan dan sebagainya tak memiliki peran sama sekali. Buktinya, sampai detik ini tradisi dan budaya mereka juga tetap terjaga sebagai salah satu khazanah budaya kita. Dengan kata lain, mereka juga memiliki siklus sejarah panjang perkembangan peradaban. Yang pada akhirnya membentuk suatu etnis dengan karakter tertentu. Baiklah, lupakan tentang unsur primordial atau apalah namanya itu. Anggap saja itu sebagai ke-iri-an saya pada penulis karena tak mampu menyuguhkan catatan yang seciamik karyanya.

Dan ada beberapa quotes yang saya sukai dari catatan itu, terutama di bagian awal. Kata-katanya begini: “Seiring berjalannya waktu, semakin saya sadari banyak hal penting yang terlupakan. Ia begitu dekat. Dan anehnya, letaknya yang dekat menjadikan saya malu dan berusaha melupakannya”. Ya, kurang lebih seperti itulah kalimatnya. Bagi saya, kalimat itu tak sekedar sebuah ungkapan kegamangan melainkan lebih pada bagaimana pembaca bisa ikut tergerak untuk mencari kemudian berbangga hati pada identitas bangsanya sendiri.

Tokoh dan Konsepsinya

Melacak akar filosofis Indonesia bukanlah perkara yang gampang, terlebih bila ditinjau dari sisi historis. Sebab, selain membutuhkan berbagai sumber rujukan yang valid juga wajib menyertakan analisis yang mendalam terkait keabsahannya. Oleh karena itu, hal yang paling mungkin untuk kita lakukan adalah dengan mencoba mendefinisikannya. Pertama-tama kita harus meletakan pengertian filsafat lebih dari sekedar pekerjaan berpikir, merenung atau kontemplasi. Melainkan lebih pada sebuah praktek tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Saya katakan demikian sebab dari berbagai sempalan sumber yang saya dapatkan saat berselancar di internet ternyata Filsafat Indonesia lebih menekankan pada perwujudan perilaku (behaviour) dan nilai-nilai yang disepakati sebagai acuan bermasyarakat.

Dan orang pertama yang menjadi cikal-bakal kajian ini adalah M. Nasroen dalam bukunya berjudul Falsafah Indonesia (1967). Hal ini belakangan diakui oleh Mochtar Lubis (1990) bahwa sebagai suatu tradisi pemikiran abstrak, studi Filsafat Indonesia sudah dimulai oleh genius lokal Nusantara di era Neolitikum, sekitar tahun 3500–2500 SM. Tapi, sebagai nama kajian akademis (di antara kajian-kajian akademis yang lain, seperti kajian 'Filsafat Timur' atau 'Filsafat Barat'), Filsafat Indonesia merupakan kajian baru yang berkembang pada dasawarsa 1960-an, lewat tulisan rintisan M. Nasroen, Guru Besar Luar Biasa pada Jurusan Filsafat di Universitas Indonesia.

M. Nasroen (1967) menjelaskan bahwa Filsafat Indonesia adalah suatu filsafat khas yang ‘tidak Barat’ dan ‘tidak Timur’, yang amat jelas termanifestasi dalam ajaran filosofis mufakat, pantun, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, gotong-royong, dan semangat kekeluargaan. Sebagai hasil dari falsafah itu dalam alam kenyataan, adalah kebudayaan. Dalam alam kenyataan terdapat bermacam-macam kebudayaan dan tiap-tiap kebudayaan ini tentu mempunyai atau berdasarkan falsafah sendiri-sendiri pula. Ia juga mengatakan bahwa sebelum bangsa Indonesia memeluk agama, Tuhan telah mengilhami nenek moyang Indonesia membaca, yaitu mengemukakan ketentuan-ketentuan yang terdapat pada alam itu. Nenek moyang Indonesia dengan ketentuan-ketentuan itu menciptakan adat dan adat itulah yang mengandung falsafah Indonesia asli di dalamnya.

Kendati demikian, banyak pakar lain yang menilai bahwa konsepsinya masih relatif umum. Tidak ada definisi yang jelas tentang apa itu Filsafat Indonesia. Sehingga apa yang ia sebut sebagai falsafah seolah termaktub dalam simbol atau ritus-ritus yang harus kita singkap dan maknai sendiri. “Untuk mengetahui dan menyelidiki falsafah asli Indonesia haruslah mengetahui dan menyelidiki adat dan pantun Indonesia”, begitu salah satu celetuknya. Kemudian, untuk melengkapi rintisan tersebut, Soenoto coba menambal sulam bagian-bagian yang rumpang dari jejak Nasroen, dengan mengkaji falsafah asli Indonesia terutama dalam tradisi Filsafat Jawa dengan penelitian dan penjabaran yang lebih mendetail. Dalam karyanya berjudul Menuju Filsafat Indonesia (1987). Namun lagi-lagi, apa yang telah dihasilkan oleh mantan Dekan Fakultas Filsafat UGM (1967-1979) itu masih dinilai kurang komprehensif. Sebab fokus penelitiannya berkutat pada akar filsafat Jawa. Sehingga belum layak disebut mewakili semua aspek dari filsafat Indonesia.

Ibarat pepatah, mati satu tumbuh seribu. Munculah tunas-tunas baru yang meneruskan jerih payah pendahulunya. Adalah R. Parmono, seorang sarjana dan magister filsafat dari almamater yang sama─fakultas Filsafat UGM Yogyakarta. Selain mengajar di UGM, ia juga salah seorang anggota Peneliti Filsafat Pancasila (1975-1979) di Dephankam. Karya-karyanya yang membahas Filsafat Indonesia ialah: Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Andi Offset, 1985), Penelitian Pustaka: Beberapa Cabang Filsafat di dalam Serat Wedhatama (1982/1983), dan Penelitian Pustaka: Gambaran Manusia Seutuhnya di dalam Serat Wedhatama (1983/1984).

Karya R. Pramono yang dianggap sebagai penyempurna kajian Sunoto adalah Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (1985). Dalam buku tersebut ia coba melebarkan lingkup kajian pada tradisi filsafat Batak, Minang dan Bugis. Dalam buku itu pula Parmono mencoba mendefinisikan ulang istilah ‘Filsafat Indonesia’, sebagai ‘…pemikiran-pemikiran…yang tersimpul di dalam adat istiadat serta kebudayaan daerah…’ (hal. iii). Jadi, Filsafat Indonesia berarti segala filsafat yang ditemukan dalam adat dan budaya etnik Indonesia. Definisi ini juga dianut oleh pelopor yang lain, Jakob Sumardjo. Sayangnya, saya belum dapat menemukan sumber yang menjelaskan isi detail buku tersebut seperti apa. Atau minimal sempalan-sempalan poin pokoknya. Jadi data yang bisa saya suguhkan hanya sebatas itu saja.

Tokoh yang terakhir adalah Jakob Sumardjo. Nama aslinya adalah Jakobus Soemardjo, dilahirkan di Klaten pada tahun 1939. Karir kefilsafatannya dimulai ketika ia menulis kolom di harian Kompas, Pikiran Rakyat, Suara Karya, Suara Pembaruan dan majalah Prisma, Basis, dan Horison sejak tahun 1969. Sejak tahun 1962 mengajar di Fakultas Seni Rupa Daerah di Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung dalam mata kuliah Filsafat Seni, Antropologi Seni, Sejarah Teater, daan Sosiologi Seni. Dalam karyanya berjudul Arkeologi Budaya Indonesia dia mengulas kerohanian Indonesia yang secara kronologis merupakan pemaparan sejarah Filsafat Indonesia mulai dari era primordial, era kuno, sampai era madya.

Disamping itu, banyak pengamat yang mengatakan bahwa Jakob Sumardjo adalah tokoh yang lihai di bidang hermeneutika. Sehingga tak ayal, jika ia juga cakap dalam hal menelusuri medan-medan makna dari budaya material (lukisan, alat musik, pakaian, tarian, dan lain-lain) hingga budaya intelektual (cerita lisan, pantun, legenda rakyat dan teks-teks kuno) yang merupakan warisan filosofis agung masyarakat Indonesia. Kemudian dalam karyanya yang lain, Mencari Sukma Indonesia (2003) Jakob kembali memaparkan hakikat Filsafat Indonesia, yang menurutnya memiliki epistema sendiri-sendiri. Meski saya belum pernah melihat seperti apa gambaran buku itu namun sejujurnya seketika hasrat saya untuk mendapatkannya begitu kuat menggejolak. Awalnya saya coba mencari di daftar katalog perpustakaan kampus tapi hasilnya nihil. Jadi lagi-lagi saya harus terpaksa berpuas diri dengan sempalan data yang tak sengaja saya temukan di sebuah warnet. Dan tentu saja tak jelas sumber asalnya dari mana. Tapi meski begitu, karena catatan ini tujuannya hanya sekedar meraba bukan untuk mengkajinya, saya rasa sempalan datapun sudah cukup mewakili.

Adapun beberapa poin tentang hakikat falsafah Indonesia dalam buku tersebut seperti ini:
“Bagi masyarakat Indonesia, filsafat bukan sekadar pengetahuan rasional, tetapi harus dibuktikan dapat dipraktikkan dalam hidup sehari-hari. Filsafat sebagai wacana kurang dilakukan, tetapi filsafat sebagai 'pegangan hidup' sejak dulu dipraktikkan. Inilah sebabnya, untuk mengetahui 'filsafat' orang Indonesia, kita perlu membacanya dalam berkas-berkas hasil tindakannya. Filsafat masyarakat Indonesia adalah praktik hidupnya sehari-hari. Filsafat Indonesia tidak berwujud diskusi-diskusi verbal yang abstrak rasional seperti biasa kita baca dalam sejarah Barat (Eropa-Amerika)”.

Selain itu, seperti yang saya katakan di awal tadi, masing-masing tokoh memang memiliki epistema pemikiran masing-masing yang dalam pandangan Jakob terbentuk dari pola pikir struktural masyarakat lokal yang membesarkan mereka. Ia mencontohkan misalnya sikap politik Bung Karno berbeda dengan Bung Syahrir, Bung Hatta dan Tan Malaka, Habibie berbeda dengan Gus Dur, dsb. Lebih lanjut, Jakob tidak hanya melulu menyajikan sebuah konsep akan tetapi juga pertanyaan-pertanyaan kritis seputar jati diri bangsa. Misalnya: “Tetapi, kalau kita ditakdirkan untuk lahir dan tinggal di suatu lokal di planet ini, mungkinkah kita menghindar dari tata nilai yang dilahirkan oleh masyarakat lokal itu?”

Kemudian, yang terakhir sekaligus sebagai penutup, saya kembali mengutip sempalan paragraf, buah dari pikiran Jakob tersebut. Yang menurut saya tidak hanya menyimpan makna begitu dalam akan tetapi juga dapat menjadi penunjuk arah atas teralineasinya bangsa kita dari identitasnya. Dia berfatwa bahwa, pada akhirnya kita harus menjadi diri kita sendiri. Sebab yang lain itu tak mungkin menerimanya sebagai bagian dari diri mereka. Engkau bukan bagian dari diri kami. Engkau berbeda dengan kami. Barangkali Engkau memang hidup seperti kami hidup, tetapi jelas bahwa engkau tidak tumbuh dari akar kami. Engkau beda. Engkau bukan kami. Lantas, ke mana kita akan menggabung? Pulang ke ibu. Pulang pada nilai-nilai Jawa, Batak, Sunda, Bugis, karena ibunda kita memang ada di sana. Setiap Malin Kundang itu akan menjadi batu.

Semoga bermanfaat. ///hasil olah fikir Shbt. Saiful Mustofa dlm catatan facebook (https://www.facebook.com/notes/saiful-mustofa/meraba-filsafat-indonesia/10151535880162992)///

COMMENTS

Name

2014,1,Berita pendidikan,1,cpns,1,dhuafa,1,filsafat,1,filsafat indonesia,1,filsafat timur,1,indonesia,1,karakter anak,1,ketakutan,1,ketakutan pada anak,1,Kisah hikmah,8,mengatasi ketakutan pada anak,1,motivasi kehidupan,1,panti asuhan,1,panti asuhan ponorogo,2,pendaftaran siswa baru,1,pendidikan,7,pendidikan anak,2,pendidikan gratis,2,pendidikan madrasah,2,pesantren,1,pondok pesantren ponorogo,2,ponorogo,2,reog ponorogo,1,Sejarah Islam,1,Tarikh,2,yatim,1,
ltr
item
Ulhikam: MERABA FILSAFAT INDONESIA
MERABA FILSAFAT INDONESIA
Ulhikam
https://ulhikam.blogspot.com/2013/11/meraba-filsafat-indonesia.html
https://ulhikam.blogspot.com/
https://ulhikam.blogspot.com/
https://ulhikam.blogspot.com/2013/11/meraba-filsafat-indonesia.html
true
2867800781637411139
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close